SilumanCapung

Kasih HI-FIVE!

Status mahasiswa yang nunggu waktu wisuda ini bener-bener menyiksa. Karena udah gak ada kegiatan ya kegiatan gue rata-rata cuma bangun, makan, berusaha untuk gak tidur lagi. Kegiatan yang monoton ini membawa gue ke liburan bareng temen-temen SMP gue dulu, refreshing ceritanya.


Tujuan kami adalah Pantai Lamaru. Sebelum sampai di pantai, di perjalanan, Dana selaku supir membuka percakapan, “Pada tau Rama, kan?”

“Rama? Yang dulu temen sekelas kita pas kelas 7 itu, kan?” jawab gue, disambut dengan oh-iya-tau-tau-kenapa? sama temen-temen yang lain.

“Dia itu aneh banget.” Dana memelankan laju mobilnya. “Entah dapat kontakku dari mana, tiba-tiba hubungin aku dan... mau pinjem duit.”

Sampai di sini ya gue setuju kalo Rama emang aneh. Begini, normalnya ketika kita minta tolong ke orang lain, pastikan orang yang akan kita mintain tolong adalah bener-bener akrab, bukan yang sekedar temen doang. Misalnya aja gue minta tolong ke Dana, jelas wajar karena intensitas kita ketemu masih sering. Sedangkan si Rama ini… setelah lulus SMP sudah gak ada kabarnya bagaimana, dan juga masa SMP itu sudah 7 tahun yang lalu. Walaupun dulunya satu kelas, ketika ada orang yang ‘hilang’ 7 tahun dan tiba-tiba muncul untuk minjem duit, gue yakin banyak yang gak bakal nolongin, karena Rama sudah jadi orang ‘asing’ di hidup kita.

Berdamai dan Berbuat Kebaikanlah

Di dunia ini ada dua jenis manusia.

Yang pertama adalah orang-orang yang setelah putus dia gak pernah teguran lagi sama mantannya. Sedangkan yang kedua adalah orang-orang yang setelah putus dia tetep berteman sama mantannya sambil berharap dapat jatah mantan ketika ketemuan.

Gue sendiri tipe pertama.

Antara gue dan mantan, setelah putus selalu tercipta sebuah kondisi di mana kami seperti tidak pernah mengenal satu sama lain. Seperti waktu yang sudah kami lalui bersama itu tidak pernah terjadi. Padahal ya semua kontak maupun akun social medianya masih punya. Sebenernya lebih ke guenya sih yang males berhubungan lagi. Apalagi kalo dia sudah punya pacar baru. Males.

Gue pun menobatkan bertemu dengan mantan adalah ketakutan nomor satu dalam hidup gue.

Entah kenapa gue takut aja. Takut perasaan yang dulu tiba-tiba muncul lagi. Takut luka di hati yang capek-capek disembuhin terbuka lagi. Takut ditagih utang gara-gara pas makan gue bilang, “Pake duitmu dulu, ya, ntar aku ganti.” tapi gak gue ganti-ganti sampe putus. Pokoknya, gue takut aja gitu.

Tapi, beberapa bulan yang lalu, gue pengin berubah aja. Gue pengin berdamai dengan masa lalu gue. Gue pengin memaafkan dan melupakan semua yang terjadi di masa lalu. Gue gak pengin punya ‘musuh’ dalam hidup gue. Momen lebaran pun menjadi saat yang tepat, setelah lama tidak kontakan, ada beberapa mantan yang akhirnya kontakan lagi sama gue. Chating sama mantan rasanya ya biasa aja, kayak temen lama yang gak pernah saling bertukar kabar. Ketakutan gue akan perasaan yang dulu tiba-tiba muncul lagi ternyata enggak kejadian. Pokoknya, ya gue jadi ‘berdamai’ dengan mantan gue.

Damainya gue dan mantan ini pun membawa gue ke sebuah pengalaman yang gak gue sangka-sangka.

Kami Para Penjahat, Eh, Shohabat

Sebuah kejahatan yang sukses selalu ditandai dengan tercapainya tujuan awal dari kejahatan itu. Misalnya ada maling, dia dianggap berhasil apabila berhasil mengambil harta berharga pemiliknya. Jika dia malah mengambil pemiliknya, dia dianggap gagal. Karena ini maling, bukan penculik.


Minggu lalu, gue melakukan sebuah kejahatan berkedok postingan baru. Bersama 3 blogger lainnya, Adi Keriba-Keribo, Iksan Ayam Sakit dan Daus SalahTulis, kami membuat sebuah konsep “bajak-bajakan” blog.

Gue membajak blognya Adi (baca di sini)
Adi membajak blognya Iksan (baca di sini)
Iksan membajak blognya Daus (baca di sini)
Daus membajak blog gue (baca di sini)

Sebelum membahas lebih detail soal kejahatan kami, mari flashback dulu untuk lebih mengenal kami.

Siluman Capung Rekrut Content Writer Baru

Hai, silumancapung lovers!

Eh, bener ya? Itu bukan sih, nama pembaca setianya blog ini? Kalau salah maafkan ya?

Kenalin. Gue Firdaus Ramdhan. Empunya blogger www.salahtulis.com. Pasti tau, kan? Haha. Ya iya lah! Blog populer kok itu. Khususnya, di kalangan Paguyuban Tukang Parkir.

Oh iya, gue juga punya beberapa media sosial nih. Siapa tahu lagi butuh akun untuk di-report as spam. Untuk Instagram, username-nya @salahtulis. Untuk Twitter, username-nya @dausition. Udah. Dua itu doang sih yang aktif.

Hmm... Jadi gini, teman-teman.

Nahan Ketawa Itu Pedih, Jendral!

Banyak temen gue yang bilang kalo gue itu orangnya susah serius, bawaannya selalu becanda mulu. Sebenernya hal ini gak 100% bener, karena gue lumayan bisa membaca kondisi, kapan harus serius, kapan harus becanda. Kebayang misalnya gue beneran gak bisa serius, pas sidang skripsi dosen penguji gue bertanya,

“Yoga, dalam penelitian Anda, kenapa anda memilih sampel menggunakan teknik random sampling?”

“Terima kasih atas pertanyaannya, Pak. Kenapa saya menggunakan teknik random sampling karena… jika menggunakan teknik act out itu namanya stand up comedy. Hehe.”

Bisa-bisa gue langsung di-DO.

Gue akui, untuk orang yang suka becanda kayak gue, walaupun dengan skill bisa membaca situasi kapan harus serius dan tidak, tetep aja kadang kita sulit untuk tidak bercanda atau ketawa di situasi yang seharusnya serius dan sakral. Contohnya aja sholat jumat.

Kadang pas lagi sholat jumat, gue sering banget terjebak dalam situasi yang secara logika gue, itu lucu banget. Tapi namanya lagi ibadah, jelas gue gak bisa dan emang gak boleh ketawa, jadilah gue musti nahan ketawa. Dan itulah cobaan berat bagi orang-orang seperti gue…

Ngomentarin: Alasan Pokemon Go Bisa Booming

Beberapa hari terakhir, game Pokemon Go mendadak booming banget. Buat yang belum tau, Pokemon Go adalah game yang menerapkan Augmented Reality (AR) yang mampu menggabungkan bidang 3 dimensi dengan bidang 2 dimensi, jadi objek yang ada di layar (dalam hal ini, pokemon) seakan-akan jadi nyata dan ada di sekitar kita. Jadilah kita nangkap-nangkapin pokemon di dunia nyata. Untuk memainkan game ini juga menggunakan GPS untuk melacak pokemon apa yang ada di dekat kita.

Di bagian bawah akan nunjukin pokemon apa yang terdekat dengan kita dan seberapa jauh langkahnya. Kayak gini:
GOTTA CATCH 'EM ALL!
Nah, ciri-ciri dari para pemain Pokemon Go adalah biasanya mereka berjalan kaki sambil tolah-toleh dan ngeliatin layar hapenya. Kayak orang nyari sinyal gitu. Jika dia berkendara, misalnya naik motor, dia akan menepi di pinggir jalan dan membuka hapenya, lalu menangkap pokemonnya. Sepanjang jalan mendadak banyak banget orang yang suka nepi gitu gara-gara game ini. Bukti bahwa game ini udah meracuni orang-orang.

Kehebohan di dunia nyata ini pun membawa fenomena demam Pokemon Go ini sampai diberitain di televisi. Ibu gue yang menonton berita pun sempet nanya ke gue, “Itu nangkap-nangkapin pokemon maksudnya gimana, sih?”

Mendapat pertanyaan ini gue sempet deg-degan, takut aja dilanjutin, “Ibu juga pengin nyari pokemon. Ntar kamu ajak ibu keliling kota, ya!”

…Untungnya enggak. *sujud syukur*

Dengan penuh kesabaran gue menjelaskan kalo itu hanyalah game belaka. Ibu gue mendengarkan dan sesekali menatap gue dengan pandangan, “Ooooh gitu.” Sesekali pandangannya berubah, “GPS iku opo? Makanan?”

Emang susah ya jelasin ke orang tua. Hingga akhirnya ibu gue nanya, “Kok bisa sampe rame gitu, ya? padahal pokemon doang.”

Gue sempet bingung harus jawab apa. “Uhhh… ya seru aja, Bu.” Jawab gue sekenanya. Kemudian gue kembali ke kamar dan kepikiran pertanyaan ibu gue tadi. KENAPA POKEMON GO BISA BOOMING?!

Setelah tidur dan bangun-bangun salah bantal, gue pun mendapatkan jawabannya…