A Great Story Comes With Great Stupidity : fiksi

The Trickster

"Mayor, please…”

Kami semua diam, menatap Joni dengan datar. Sesekali salah seorang dari kami menggelengkan kepala, tidak percaya dengan semua argumen dia. Kami semua yakin bahwa dia adalah pembunuh yang kami cari selama 2 malam terakhir.

“Tolong, mayor…” mohonnya lagi. “Kalian salah orang! Aku orang baik.”

“Jangan percaya, mayor! Pasung aja! Bakar!” Ucap Irfan penuh semangat.

“Pasung atau bakar, nih?” Tanya sang mayor. “Yang konsisten, dong!”

“Pasung, lalu bakar!” Irfan menjawab dengan lantang.

Aku menatap pimpinan desa ini alias sang mayor, Febri, dia menatap Joni dengan tajam. Bibirnya ia gigit, lalu membuang pandangannya ke luar. Joni memasang tampang memelas, sorot matanya meminta belas kasihan dari sang mayor.

“Gak! Aku gak percaya! Eksekusi dia!” Tunjuk Febri ke arah Joni.

“YEAAAH! BAKAAAR!!!” Seluruh penduduk desa tampak senang dengan keputusan Febri sang mayor.

Wajah Joni menjadi pucat pasi.

Dengan penuh semangat puluhan warga desa menggiring Joni ke ujung desa, melewati hutan yang tak terawat. Pohon tua dan rumput menjuntai tinggi menjadi pemandangan yang mengerikan. Langkah penduduk desa terhenti di sebuah batang pohon tua yang besar sekali. 


Pohon itu adalah tempat para warga desa mengeksekusi warga yang bersalah. Sang tersangka akan dipasung ke sebuah dahan yang runcing, tepat di bagian jantungnya, kemudian tubuhnya diikat dan dibakar habis. Tulang dan abu sisa seorang warga yang dieksekusi kemarin tampak berserakan di samping akar yang besar.

Dua orang warga desa bertubuh besar mencengkram kedua tangan Joni yang masih berusaha melepaskan diri. Mereka siap menggangkat tubuh Joni dan memasungnya.

Penduduk desa mulai menyirami bensin ke tubuh Joni dengan penuh semangat, seakan-akan Joni adalah tumbuhan dan bensin adalah airnya. Febri selaku mayor berdiri paling depan dengan obor menyala di tangannya.

“Ada kata-kata terakhir?” tanyanya.

Mantan Tak Kasat Mata Part 2

Mulai darimana nih enaknya? Yang bingung sebenernya cerita apa ini, bisa baca cerita sebelumnya di sini.
*****

Karena merasa gak punya mantan, awalnya telepon itu gak gue angkat. Gue biarin aja. Gue tinggal mandi, leyeh-leyeh bentar, umroh, marathon nonton drama korea. Pas asik nonton drama korea yang judulnya Warm and Cozy, di adegan si Yoo Yeon Seok mau nyium si Kang Sora, tiba-tiba...


Yoo Yeon Seoknya berubah jadi Mario Balotelli! :(

“Ya Allah… gangguan apa lagi ini? Kentang, kan!” batin gue. Teringat akan hape yang gue abaikan, gue segera ngecek hape gue, udah ada 17.876 missed call. Karena gue penasaran kenapa si kampret gangguin gue mulu, gue mau protes dan bertanya, “Apa salah gue? Apa salah temen-temen gue? Kentang tau!” dan berjuta pertanyaan lain di kepala gue tentang teror ini. Panggilan dari ‘Mantan Terindah’ itu muncul kembali. Gue pun angkat telepon tersebut.

“Ha-halo?” kata gue. “Balikin Yoo Yeon Seok-nya woi!”

Tidak ada jawaban. Hanya ada suara nafas yang terdengar berat dan memburu.

HHHHHH… HHHHH… IKEH….

“….”

Kemudian terdengar suara cewek ketawa yang nyaring banget, “wkwkwkwk.”
Lalu muncul bau kispray sachetan warna ungu.

SUMPAH. GUE. MERINDING. Gak pernah gue denger suara ketawa seserem itu. Hape gue tadi langsung mati. Baterenya abis.

Teror itu benar-benar melemahkan mental gue. Kostan yang awalnya gue kira adalah kost idaman ini ternyata kost terburuk yang pernah gue tempati. Gue benar-benar gak tahan. Gue mulai berencana untuk pindah kostan lagi, tapi sepertinya ‘dia’ tidak mengijinkan gue untuk pindah.

Waktu itu gue bener-bener udah depresi berat dengan gangguan-gangguan gak masuk akal itu. Gue pun mutusin untuk ngungsi ke kostnya pacar sambil mulai cari-cari kostan baru. Sumpah, ini karena emang gue takut, bukan mau mesum. Sumpah. Beneran. Kayaknya sih.

Setelah menghabiskan waktu sampai tengah malam sambil nonton smackdown sama Scarlett Johansson, dia tidur di kasur, gue tidur di keset, kayak kucing. Pas gue bangun, tau-tau gue udah di kostan gue. Di atas tumpukan kertas bertulisankan “JAHAT!” lagi.

Mantan Tak Kasat Mata

Sebelum memulai cerita ini, gue cuma mau ngasih tau kalo semua yang gue ceritain ini adalah kejadian nyata, terserah kalian mau percaya atau tidak, tujuan gue cuma ingin berbagi. 

Oiya, perkenalkan nama gue Reza. Tapi biasa dipanggil Eja, kalo malam Echa. Cerita ini terjadi sekitar 1 tahun lalu, di mana saat itu gue aktif sebagai mahasiswa tingkat akhir yang baru aja pindah kostan. Sekarang gue udah gak tinggal di kost itu lagi, tapi status gue masih belum berubah alias gue belum lulus (terkutuklah kau skripsi!)

Kisah yang akan gue ceritakan ini berlatar belakang di kost tempat gue baru pindah. Selama tinggal di kostan itu, gue selalu mengalami terror dari dunia ‘lain’. Tidak tanggung-tanggung, gue diteror selama 1 bulan lebih! 1 bulan setengah hari tepatnya. Selain diteror skripsi, gue juga diteror oleh hal-hal yang bersifat kasat mata dan secara terus menerus datang di kehidupan gue.


And then the story begin…

Sore itu gue baru aja selesai memindahkan barang ke kostan baru. Sebagai mahasiswa tingkat akhir gue butuh ketenangan ekstra saat mengerjakan skripsi. Di kostan lama gue, ketenangan adalah suatu hal yang mustahil. Suara sumbang anak-anak main gitar, suara knalpot racing dan suara ikeh-ikeh kimochi dari kamar sebelah menjadi sarapan sehari-hari gue.

One Button: Push It, Face It

Siang itu aku hanya terbengong di hadapan laptopku, dengan posisi duduk di depan meja belajar, lembar dokumen Microsoft word yang sudah kubuka 15 menit yang lalu masih tampak polos, belum ada terketik sepatah kata pun. Aku mengalihkan pandanganku ke jendela, siapa tau aku dapat menemukan inspirasi untuk memulai paragraf awal proposal skripsiku. Bukannya mendapat kalimat fantastis, aku malah mendapati cuaca di luar mendadak berubah menjadi mendung. Awan hitam mulai meluas di angkasa, menutupi sinar matahari, angin juga mulai berhembus kencang, membuat pepohonan mulai terombang-ambing mengikuti arah datangnya angin, juga membuat beberapa ibu-ibu mulai ke luar rumah untuk mengangkat jemuran, mengantisipasi kejadian daster kesayangan terbang tertiup angin.

“Wuihhhh… anginnya sadis!” ujar Bobby yang tiba-tiba menempelkan wajahnya di jendela kamarku. “Ini enggak ada beha terbang gitu, ya?”

Aku hanya menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Bobby. Aku lebih memilih untuk kembali fokus dengan laptopku. Berusaha mencari kalimat yang bagus untuk diketik.

“Kalo katanya hujan itu adalah raksasa lagi nangis, kalo angin kenceng gini apa coba? Raksasa kentut?” tanyanya lagi.

Aku menghentikan kegiatanku, menatapnya dengan memicingkan mataku, seperti pembunuh. Bobby mengangkat kedua tangannya bak tersangka, dengan entengnya dia bertanya, “Ke…kenapa? Salah?”

Tanpa menjawab, aku kembali sibuk dengan laptopku.

“Sensi amat, nyet.” Sungut Bobby. “Pantesan kamu jomlo menahun.”

Aku kembali menghentikan kegiatanku, lalu memutar kursi, di hadapanku kini ada si Bobby yang lagi asik ngulet di kasurku. Lagi-lagi dia memasang muka tidak bersalah.

“Bener, kan?” tanyanya. “Kamu sudah dua tahun jomlo, semenjak terakhir pacaran sama… siapa itu? Ah! Saking lamanya aku sampai lupa siapa nama mantanmu itu.”

“Vio.” Jawabku datar.

“Nah, Vio!” Bobby menepuk kedua tangannya. “Yamaha vio!”

“ITU MIO!” sanggahku, sebal.

“Hehehe…” Bobby nyengir. “Oiya, Vio sudah ngapain aja ya sama pacar barunya?”

“Kampret!” balasku emosi. Hampir saja kulempar laptopku, tapi gak jadi, mahal.

“Coba kamu cari pacar sana,” kata Bobby enteng. Seakan-akan nyari pacar itu kayak nyari air di lautan.

“Aku lagi gak pengin pacaran. Fokus skripsian.” Jawabku mantap, sambil menunjuk laptop yang ada di belakangku.

“Elaaahh… Skripsian masih bisa tahun depan.” Lagi-lagi jawaban Bobby bikin kesal.

“Biar wisudanya barengan sama kamu? Ogah.”

Bobby nyengir lagi.

Aku dan Bobby walaupun seumuran, tapi kami beda setahun saat kuliah. Setelah lulus SMA, aku langsung kuliah, sedangkan Bobby mencoba untuk mendaftar akademi polisi, sayangnya gagal. Karena trauma ditolak dan gak biasa ditolak, dia pun menyerah dan kini menjadi juniorku di kampus, walaupun beda jurusan. Aku mengambil jurusan hukum, Bobby mengambil jurusan tol cipularang, oke bukan, teknik mesin.

“Buat apa emang pacaran?”

“Ya biar ada yang nyemangatin, biar ada juga yang kamu tulis di halaman persembahan. Hahaha!” Tawa Bobby meledak, tidak lama kemudian dia menghentikan tawanya, “Kamu masih belum move on dari Vio?”

Sebuah pertanyaan yang menohok. Sebenarnya aku bukan tidak bisa move on. Aku sudah rela, ikhlas dan kata apapun yang menggambarkan kalo aku gak apa-apa Vio bahagia dengan cowok lain, aku hanya trauma untuk pacaran lagi. Aku dan Vio pacaran selama 2 tahun, walaupun kami beda kampus, kami tetap mesra. Tiap hari aku antar jemput dia, nemenin dia ngerjain tugas, ngerawat dia pas sakit. Semua masa-masa bahagia itu harus berakhir karena yang bikin Vio bahagia ternyata enggak hanya aku seorang, ada juga cowok lain di kampusnya. Aku belum siap untuk patah hati lagi. Berjuang tidak sebercanda itu.

“Aku kasih tau, ya. Untuk move on, yang perlu kamu lakuin cuma satu. buka hatimu.” Kata Bobby serius, sambil merubah posisinya menjadi duduk bersila di kasurku. “Ibarat naik lift, ya. Kalo kamu pengin naik ke atas, cuma butuh pencet satu tombol. Begitu juga move on. Kamu harus temuin ‘tombol’ untuk buka hatimu, nyet.”

“Tombol?” tanyaku, gak ngerti. “Temuinnya di mana?”

Bobby bangkit dari kasurku, lalu berjalan pelan ke arahku, dia mengarahkan telunjuknya ke arahku dan menempelkannya di atas alis kananku.

“Di sini, nih.”

“Kampret!” Aku menghempaskan tangan Bobby dari wajahku. “ ITU TAI LALAT!”

Bobby ngakak gak karuan. Sementara aku misuh-misuh, tawanya mulai reda, lalu ia merogoh kantong celananya untuk mengambil handphone. “Oiya, mau liat pacar baruku?”

“Bukannya udah, ya?” aku menggaruk dahiku. “Tiga hari yang lalu kamu jadian dan tunjukin fotonya. Namanya Anita, kan? Tinggi 165 cm, berat 45 kg, 34b?”

“Elaaahh… udah kuputusin!” Bobby mengehempaskan tangannya ke udara. “Oiya, lain tiga hari. Empat hari! Empat!”

Aku speechless. Sahabat macam apa ini gonta-ganti pacar kayak ganti menu makan sedangkan aku jomblo menahun?! Padahal aku tau, Anita itu cantik banget, Bobby emang sok playboy. Aku tau Bobby gak pernah awet kalo pacaran. Paling lama cuma 5 bulan, paling cepet 5 hari. Tapi sepertinya dia baru saja memecahkan rekor pribadinya sendiri.

“Mau liat fotonya, enggak?” Bobby menggoyang-goyangkan tangannya yang memegang hape. “Ini lebih cantik daripada Anita, lho.”

“Enggak, deh.” Tolakku. “Ntar paling ganti lagi.”

“Enggak. Kali ini aku tobat, aku mau pacaran serius sama yang sekarang. Aku bakal jaga dia.”

Aku hanya menghela nafas, aku sudah sering mendengar Bobby mengucapkan kalimat bullshit itu.

“Oiya, nyet. Ingat pesanku yang tadi, kan?” Bobby menunjukku. “All you need is one button”.

*****

Namaku Jemi, aku mahasiswa jurusan hukum semester 8. Di saat temen-temenku yang lain hanya mengambil mata kuliah skripsi, hanya aku seorang yang masih mengambil mata kuliah semester bawah karena nilaiku C. Sebenernya, mengambil mata kuliah semester bawah ini ada untungnya, ada ruginya. Ruginya adalah aku mahasiswa paling senior di kelas, dan ini memalukan apabila kita tidak lebih pintar dari mahasiswa yang masih polos dan imut-imut itu. Bayangin aja misalnya dosen bertanya padaku tapi aku gak bisa jawab? Bisa-bisa yang niat awalku mengulang mata kuliah, jadinya malah enggak lulus mata kuliah.

Nah, kali ini soal keuntungannya. Aku bisa ngerasain yang namanya naik lift! Dulu, pas awal-awal kuliah, aku kedapatan kelas di gedung baru berlantai 5, sayangnya gedung baru ini gak ada liftnya, dan fakultasku selalu kebagian kelas di lantai 5. Tujuh semester aku naik turun tangga! Saking lelahnya naik turun tangga mulu, waktu itu aku sempat kepikiran untuk naik jetpack, sayangnya aku gak punya. Kampretnya, pas sudah mau lulus begini, eh malah ada lift. Aku jadi percaya pepatah “Apa saja akan terlihat jadi lebih cakep saat sudah jadi mantan.”

Keberadaan lift yang sudah dinanti-nantikan para mahasiswa ini berdampak pada tingkat kenorakan mereka saat naik lift. Karena ini lift satu-satunya dan peminatnya banyak, jadilah banyak yang antri. Pas waktu itu aku lagi antri, ada seorang cowok yang antri di sebelahku sok asik dengan membuka topik pembicaraan. “Antri juga, mas?”

YAIYALAH NGANTRI, MASA IYA COSPLAY JADI PATUNG?!

Aku hanya mengangguk dan menjawab singkat. “Iya.”

“Masnya mau ke lantai berapa emang?” tanyanya lagi.

YA ELAHHH… INI ORANG GAK NGERTI APA KALO AKU MALES NGOBROL SAMA DIA?!

“Lima.” Jawabku, singkat.

“Ohhh…” dia ngangguk-ngangguk. “Kalo saya mau ke lantai dua, hehe.”

GAK NANYA, KAMPRET! LAGI PULA KE LANTAI DUA KENAPA MUSTI NAIK LIFT?! NAIK TANGGA SEMENIT JUGA SAMPE!!!

Untungnya saat itu lift yang sudah sampai ke bawah menyelamatkanku dari berubah menjadi mahluk hijau raksasa dan memukuli cowok sok asik tadi.

*****

Pagi ini aku ada mata kuliah hukum perdagangan internasional, bergabung bersama dedek-dedek semester 4. Kuliah di mulai pukul 8.00. aku melihat jam tangan yang melingkar di tangan kananku, sudah pukul 8.05. “Semoga dosennya belum datang.” Gumamku dalam hati. Dosenku ini terkenal kejam, saking kejamnya, Fir’aun kalo kenal dosenku pun akan minder. Gimana gak kejam coba kalo beliau tidak akan mengizinkan mahasiswanya masuk ke kelasnya jika datang terlambat.

Aku segera berlari dari parkiran menuju lift. Aku benar-benar bersyukur dengan keberadaan lift ini, bayangin aja kalo gak ada lift, aku bakal lari dari parkiran menuju lantai 5 naik tangga. Udah mirip adegan film The Raid. Aku Iko Uwais, dosenku Maddog.

Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku, aku datang tepat saat liftnya di bawah dan pintunya terbuka. Aku segera masuk ke dalam, bergabung bersama gerombolan mahasiswa lain yang sepertinya sama-sama terancam telat. Pintu lift mulai menutup, dari kejauhan ada seorang mahasiswi setengah berlari menuju pintu lift. Dia memakai baju kaos lengan panjang bermotif belang-belang warna hitam putih, skinny jeans warna hitam, sepatu sport warna putih dan menenteng totebag.

“Narapidana kabur dari sel mana, nih?”

Aku segera menghentikan pintu lift yang akan menutup, dia pun berhasil masuk ke dalam, “Makasih. Hhhh… hhhh….” Dia mengantur nafasnya, lalu tersenyum ke arahku, manis.

“I-iya. Sama-sama.”  Aku membalas senyumnya. Duh, dari dekat begini ternyata cantik banget, kampret.

Bulir-bulir keringat tampak muncul di sekitar dahinya, membuat kulit putihnya tampak mengkilap. Dia pun mengambil karet ikat rambut dari pergelangan kirinya, lalu menguncir rambut hitam panjangnya. Cewek yang memakai baju motif belang-belang aja sudah bikin dengkulku lemes, ditambah gerakan menguncir rambut, rasanya aku mau mimisan.

Pintu lift pun tertutup, aku segera memencet tombol berangka lima. Lift mulai mulai bergerak naik ke atas, mengantarkan para mahasiswa ini ke lantai kelasnya masing-masing.

“Sarah! Oi!” terdengar suara cempreng seorang cewek yang berdiri di belakangku. Cewek yang berbaju belang-belang yang ada di depanku tampak mencari sumber suara.

“Oh, namanya Sarah.” Ujarku dalam hati.

Cewek yang bernama sarah ini akhirnya menemukan sumber suara yang memanggilnya, dia tersenyum lalu melambaikan tangannya, tanda tidak kuat melihat wajahku. Oke, bukan, tentu saja dia menyapa temannya itu.

Lift berhenti di lantai tiga. Beberapa mahasiswa yang yang ada di dalam lift beranjak ke luar, termasuk si Sarah, yang tersisa di dalam lift hanya ada aku dan seorang bapak-bapak tua yang memakai kacamata tebal, kemeja batik kebesaran dan celana bahan, dia menenteng buku tebal dengan judul “hukum perdagangan internasional”.

“Lah, dosenku.”

Awkward moment.

Aku yakin, sesaat setelah keluar dari lift akan terjadi sebuah pertarungan sengit untuk balapan sampai ke kelas.

*****

Di rumah aku jadi kepikiran dengan cewek yang bernama Sarah ini. Senyum manisnya terbayang-bayang di otakku, adegan mengikat rambut terekam dengan baik pula. Berbagai pertanyaan mulai muncul di kepalaku. Aku kuliah hampir empat tahun kenapa baru lihat cewek secantik dia di kampus? Ke mana aja aku selama ini? Vio udah ngapain aja sama pacar barunya?

Aku pun mulai berusaha mencari informasi soal sarah dan menemukan beberapa fakta.
1.Dia cewek
2.Dia cantik
3.Dia pasti anak ekonomi! Karena cewek-cewek fakultas ekonomi di kampus mana pun pasti cantik! Oke, enggak. Aku tau dia anak ekonomi karena kelasnya di lantai 3, kelas anak-anak ekonomi.

Jangan-jangan kehadiran Sarah ini adalah ‘tombol’ untuk membuka hatiku? Aku jadi enggak sabar untuk ketemu Sarah lagi… minggu depan. Nasib mahasiswa tingkat akhir, makin dikit mata kuliah yang diambil, makin dikit pula kelihatan beredar di kampus. Mau ke kampus dengan alasan bimbingan skripsi tapi proposalku sendiri masih stuck di… judul.

*****

Menunggu selama seminggu ternyata cukup menyiksaku. Aku benar-benar pengin melihat si Sarah lagi.

Aku masih di sekitaran parkiran, tolah-toleh mencari Sarah, berharap dapat satu lift lagi sama dia. Kadang perasaan bisa se-random ini, kita berharap kepada orang yang tidak tau keberadaan diri kita.

Pintu lift sudah terbuka, para mahasiswa mulai berebut untuk masuk ke dalam, dari jauh mereka sudah mirip para zombie di serial the walking dead yang liat manusia lagi tidur anteng. Aku pun segera menuju gerombolan mahasiswa itu, berkat status mahasiswa senior ini aku berhasil masuk ke dalam dan…

DEG!

ADA SARAH!

Entah kenapa kali ini Sarah terlihat lebih cantik daripada saat pertama ketemu. Sarah berdiri di bagian samping lift, dekat deretan tombol lantai yang akan dituju. Tadi aku berhadap satu lift lagi sama dia, giliran sudah ketemu gini aku malah mati gaya, bingung harus apa. Apakah aku harus kejang-kejang karena bahagia, atau langsung menyanyikan lagunya Naff yang berjudul ‘akhirnya kumenemukanmu’? aku cuma bisa tersenyum najis sambil menatap dia.

“Lantai berapa, kak?” kalimat Tanya itu keluar dari mulutnya sarah. Suaranya? Imut! Bahkan lebih imut suaranya Sarah dibandingkan suara Winny Putri Lubis yang promosiin akun pembesar payudara di instagram. Dengkulku terasa lemas.

“Uh-uhmm… lima.” Aku gelagapan dan segera mengarahkan tanganku untuk memencet tombol berangka lima. Tangannya Sarah ternyata juga memencet tombol yang sama. Jari kami beradu, di sebuah tombol lift. Dunia terasa menjadi lambat, cupid datang menancapkan panahnya ke hatiku. Sayup-sayup mulai terdengar lagunya Adera – Lebih Indah.

Dan kau hadir…
merubah segalanya…
menjadi lebih indah….

Mataku yang tadinya melihat jari yang beradu, kini mengalihkan pandangannya ke wajah sarah, pipinya memerah dan mulutnya sedikit terbuka, malu. Dia segera menarik tangannya, melirikku secepat Sonic the hedgehoc berlari dan menunduk. Malu part 2. 

“Cieeee…”

Suara sumbang dan penuh penghinaan dari seorang cowok di belakangku merusak momen indahku. Aku segera meliriknya dengan pandangan kamu-mau-dilempar-keluar-dari-lift?. Cowok tadipun diam. Aku tahu bahwa cowok itu adalah juniorku. Sepertinya dia belum tau kalo aku paling gak bisa diajak bercanda.

Lift bergerak naik ke atas, tidak lama kemudian lift berhenti dan membuka pintunya, lantai tiga. Sarah segera melesat ke luar dan setengah berlari menuju kelasnya, disusul beberapa mahasiswa lain. Menyisakanku di dalam bersama cowok yang tadi nge-cieee-in aku. Pintu lift pun tertutup, aku mendorong tanganku ke depan, merenggangkan otot lenganku, mengepalkan kedua tanganku dan mulai membunyikan jari-jariku.

Kretek. Kretek. Kretek.

Sambil tersenyum dan mengangkat alis sebelah, aku menatap juniorku tadi. “Tadi kamu bilang apa? Cie?” tanyaku dengan nada datar. Juniorku tadi pipis di celana.

*****

Selama di kelas, yang biasanya aku lalui dengan menahan kantuk, kali ini berganti menjadi menahan senyum-senyum sendiri. Sangat tidak keren sekali seorang senior senyum-senyum sendiri di kelas yang berisi 99% junior, selain wibawaku akan hancur, ntar mereka mengira aku sudah gila karena skripsi.

Ketika sang dosen mengeluarkan kalimat yang ditunggu-tunggu, yaitu, “Kuliah hari ini cukup sampai di sini.” Aku langsung melesat ke luar kelas, pengin segera pulang dan senyum-senyum sendiri sepuasnya di kamar. Aku sudah berdiri di depan lift, menunggu sebentar dan pintu lift pun terbuka. Aku segera masuk ke dalam, sendirian. Lift mulai bergerak turun, beberapa saat kemudian berhenti, di lantai tiga. Pintu lift terbuka.

Ada Sarah dan beberapa temannya. Mata kami bertemu. “Tuh, udah kebuka liftnya, bilang mau pulang duluan?” kata cewek di sebelah Sarah.

“Uh…” Sarah menggigit bibir bagian bawahnya, “Ya-yaudah, aku duluan, ya.” Dia pun melangkahkan kakinya ke dalam lift, dan tersenyum tipis. Aku berusaha se-cool mungkin, padahal girang setengah mampus.

Pintu lift tertutup.

Sarah hanya diam menunduk, mungkin masih malu karena kejadian tadi pagi. Aku sendiri bingung harus apa, kalo diam begini aja aku gak bakal menghasilkan apa-apa. Aku beranikan diri untuk membuka percakapan, “Ma-mau ke bawah, ya?”

Sarah melirikku, “I-iya.”

PERTANYAAN MACAM APA ITU, JEM?! INI KAN LIFTNYA EMANG KE BAWAH, NGAPAIN DITANYA?!

“Kamu yang waktu itu hampir ketinggalan lift itu, bukan?” aku coba basa-basi lagi.

“I-iya, kak. Hehe…” jawabnya sambil tertawa kecil. “Kakak yang berhentiin pintunya, kan biar aku bisa masuk?”

“Iya haha…” aku menggaruk kepalaku. “Sama kamu yang tadi pagi barengan mencet tombol lift itu, ya?”

Mendengar pertanyaanku, Sarah kembali menunduk, sepertinya dia benar-benar malu mengingat kejadian tadi pagi, “I-itu gak sengaja, kak.” Jawabnya gelagapan.

Aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang menyembunyikan rasa malunya. Aku pun memberanikan diri untuk menyodorkan tanganku, “Jemi. Hukum semester 8. Kita belum kenalan, kan?”

Perlahan, sarah melirikku, sedikit ragu tangannya menyambut tanganku yang sudah tergantung selama 2 detik. Dari bibir tipisnya dia menyebutkan namanya, “Sa-Sarah. Ekonomi semester 4, kak.”

Halus banget tangannya… Pasti dia gak pernah angkat-angkat batu bata.

“Oke. Cukup sampai kenalan aja, jangan terlalu agresif minta kontaknya, apa lagi minta bayarin cicilan motor.” Ucapku dalam hati.

Lift pun berhenti. Kami melepaskan jabatan tangan kami. Pintu lift mulai terbuka. Sarah melangkahkan kakinya ke depan pintu, langkah kakinya terhenti, dia menoleh ke arahku dan tersenyum, “Duluan kak.”

“Uhh… Iya.” Aku tersenyum lebar. “Hati-hati.”

*****

Sepertinya aku benar-benar lagi jatuh cinta. Orang yang jatuh cinta cenderung suka senyum-senyum sendiri, tiap melihat cermin bawaannya pengin bercermin terus, memastikan diri ini ganteng abadi, dan mulai berfantasi liar dengan orang yang membuat kita bertindak bodoh seperti tadi. Misalnya saja membayangkan lagi ngambil uang di ATM, pas mau pergi ada tukang parkir, eh tukang parkirnya ternyata Sarah. Aku sudah lama gak merasakan perasaan seperti ini. Bayangan Sarah selalu muncul di tiap aktifitasku. Selama seminggu terakhir aku jadi lebih bersemangat, proposal skripsiku pun terkena dampaknya, sekarang aku sudah masuk Bab 2.

Pukul 7 pagi aku sudah di kamar mandi, yang biasanya aku mandi hanya seperti injury time pertandingan sepak bola, alias 3 menit, kali ini aku mandi 20 menit. Ibuku sempat curiga kenapa aku mandi lama sekali. “Kamu ngapain aja di dalam sana, kok lama?!” Selidik beliau.

“Ya mandi, lah!” jawabku.

“Sabunnya kok belakangan ini cepat habis, ya?”

“Uhhh… aku buru-buru, Bu. Ntar telat.”

Parfum hampir satu botol kusemprotkan ke badanku. Baju yang biasanya kuambil langsung dari tumpukan baju, kali ini aku setrika rapi. Aku pun berangkat kuliah dengan tujuan utama bertemu Sarah dan meminta kontaknya. “Langkah awal PDKT akan terjadi hari ini!” aku mengepalkan tanganku ke udara.

Sampai di kampus, aku melirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 8.05, “Biasanya jam segini nih Sarah datang.” Gumamku dalam hati, sambil berusaha menahan dari perbuatan hina: senyum-senyum gak jelas.

Pintu lift terbuka, aku segera menuju ke sana dan menyiapkan senyum terbaik, sampai di dalam mataku menatap ke segala penjuru, seperti terminator yang mengidentifikasi orang-orang yang ada di hadapannya, aku tidak menemukan Sarah.

Sudah rapi dan ganteng begini masa gak ketemu, sih?!

Aku menaruh kedua tanganku ke kantong celana jeansku, dan menepuk-nepuknya, “Eh, kunciku ketinggalan di motor!” aku keluar dari lift, padahal kuncinya ada di celanaku.

Aku berjalan menjauhi lift, mengamati dari kejauhan, menunggu Sarah ada di dalam sana. 10 menit berlalu, sudah 2 kali lift naik-turun. “Mungkin dia datang cepet kali, ya?” pikirku. Dengan langkah lemas aku menuju lift, tidak ada mahasiswa lain yang masuk ke dalam lift kecuali aku. Sampai di lantai 5, aku menuju kelasku, di dalam sana sudah ada dosen, aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Dosenku memicingkan matanya ke arahku.

“Maaf, Pak, saya terlambat.” ucapku pelan.

“Ya silakan.” Dosenku membenarkan posisi kacamatanya. “Tutup pintunya dari luar.”

Para junior yang ada di dalam kelas terlihat menahan tawa.

Shit.

Aku memutar, tidak jadi masuk kelas dan kembali menuju lift. Langkahku terasa makin berat. Terlalu banyak berharap dan tidak sesuai dengan realita ternyata membuat hati ini sesak.

Pintu lift terbuka. Dengan rasa kecewa aku masuk ke dalam, aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri, yang dibodohi oleh harapan-harapan yang kubuat sendiri. Laju lift ini pun terasa lebih lambat. Aku menghela nafas panjang.

Lift berhenti, aku melirik layar di bagian atas, menunjukkan lantai tiga. Perlahan pintu lift terbuka dan ada sosok yang aku harapkan. Sarah! Dia memakai kemeja flannel kotak-kotak berwarna merah yang tidak dikancing, membiarkan tanktop hitamnya terlihat, dia berdiri menunggu lift dengan seorang cowok yang dengan erat ia gandeng tangannya.

“Loh, nyet?” kata cowok itu, dia mendatangiku sambil menggandeng Sarah.
Aku mengucek mataku berkali-kali, seperti tidak percaya apa yang aku lihat.

“Bobby?” tanyaku memastikan.

“Iya, kamu ngapain? Gak kuliah?”

Pandanganku terfokus ke tangan mereka yang bergandengan erat.

“A-Aku telat, gak dibolehin masuk.” Jawabku, berusaha fokus dan cool. “Kamu ngapain di sini? Kelas anak teknik di gedung sebelah, kan?”

“Aku juga telat terus gak dibolehin masuk sama dosenku hahaha. Yaudah aku susulin dia,” Bobby menunjuk Sarah. “Oh iya, ini kenalin pacarku. Dia senasib sama kita.”

Pa-Pacar? Kretek. Ada suara hati yang patah.

Aku melirik Sarah, dia hanya menunduk sambil perlahan melepaskan genggaman tangan Bobby.

“Sarah, kenalin ini sahabatku, Jemi.” Bobby menunjukku, lalu menunjuk Sarah. “Jem, ini Sarah, yang waktu itu kamu gak mau lihat fotonya. Tapi cantikan aslinya kok dibandingkan fotonya.”

Kami pun berkenalan lagi. Canggung.

Pintu lift terbuka, kami bertiga keluar. Jika minggu lalu aku merasa lift yang membawaku turun bersama Sarah terasa sangat cepat, kali ini aku merasa sangat lambat dan menyiksa. Dadaku semakin terasa sesak.

“Kita mau ke McD, mau ikut?” ajak Bobby.

SEKALIAN AJA AJAK NGOPI KE STARBAK BIAR AKU KASIH SIANIDA!

“Enggak, deh. Aku mau pulang, skripsian.”

“Errr… yaudah kita duluan, ya. Semangat, Jem!” kata Bobby. “Tuh, udah aku semangatin, kasian kamu gak ada yang nyemangtin hahaha!”

“….”

Mereka berdua pun perlahan menghilang dari pandanganku, sambil bergandengan tangan mesra. Meninggalkanku yang tampak baik-baik saja di luar, tapi rapuh di dalam. Jika kata Bobby untuk move on aku hanya butuh satu tombol, begitu pun patah hati, aku juga hanya butuh satu tombol untuk itu.

Thank you, Bob.




######

Di tengah proses skripsian, gue ditantangin untuk bikin cerpen oleh para kampret ini, Kresnoadi, Ichsan dan Daus. Jadi kesepakatannya adalah kita bikin sebuah cerpen dengan tema yang sama, yaitu lift, dengan genre bebas, yang penting berhubungan dengan lift. Karena gue gak terlalu bisa bikin cerpen, jadilah… ini hasilnya.

Cerpen punya Kresnoadi bisa dibaca di sini.
Cerpen punya Daus bisa dibaca di sini. 
Cerpen punya Ichsan gak usah dibaca, tapi kalo mau buang-buang kuota ya silakan baca di sini.
 
Buat yang diem-diem baca, kalo mau ikutan, hayuk bikin~

You're worse than nicotine

Jam dinding yang tergantung di dinding belakang kafe sudah menunjukkan pukul 10 malam. Itu artinya aku sudah 2 jam berada di kafe ini, sendirian. Entah sudah berapa puntung rokok yang kubuang ke dalam asbak yang ada di atas mejaku. Asbaknya hampir penuh dengan puntung, abu dan kenangan masa lalu. Aku mengambil botol bir bintang radler yang sudah kuminum setengah. Embun dibotolnya terasa dingin di tangan. Sedingin sikapmu sebelum meminta untuk mengakhiri hubungan kita, 1 minggu yang lalu.

Hari ini tepat 2 tahun yang lalu kita bertemu. 

Sebuah ‘kecelakaan’ yang seharusnya membuatku emosi berat, tapi begitu melihat siapa dalang di balik kecelakaan itu, emosiku surut seketika. Saat itu aku sedang mengerjakan proposal skripsiku di kafe ini. Aku mulai kehabisan kata-kata, kuambil secangkir hot cappucinno yang ada di samping laptopku, baru saja kuangkat cangkirnya, tangan kananku terhempas begitu saja ke arah samping. Kopinya tumpah ke laptop dan celanaku. Laptopku seketika mati, selangkanganku terasa panas, dua buah masa depanku terancam seketika. Aku menoleh dengan cepat ke belakang dan siap mengabsen para hewan di kebun binatang di depan orang yang berani-beraninya melakukan perbuatan ini padaku.

Begitu aku menoleh, sesosok cewek berambut hitam sebahu, dengan kacamata ber-frame besar menempel di wajahnya yang tampak pucat ketakutan, matanya tampak bulat dan besar, bibir tipisnya berkata terbata-bata, “Ma-maaf.” Lalu tersenyum kecil. Aku bisa membaca ekspresi ketakutanmu saat itu.

Iya, sosok itu adalah kamu.

Cukup lama aku terpana menatapmu. Senyumanmu membuat berbagai nama hewan yang hendak kuabsen menjadi sebuah ajakan perkenalan. “Oh... iya gak apa-apa, kok. Nama kamu siapa? Aku Reza.” Aku menyodorkan tanganku.
Mungkin saat itu di bibirmu sudah ada cupid yang menggelayut manja. Panahnya kini tertancap tepat di hatiku yang terdalam.

“Uhmmm… Aku Stella.” Tanganmu tampak ragu saat menjabat tanganku, “yakin gak apa-apa? Itu laptop kamu ketumpahan kopi, kan?” katamu panik.

“Bisa diservis, kok kalo rusak. Udah gak apa-apa.” Kataku sok tegar. Padahal proposal skripsiku tadi sudah masuk bab 3 dan belum ku-save.

“Ummm… itu celana kamu juga ketumpahan kopi?” katamu lagi sambil menunjuk ke celanaku yang tadinya berwarna abu-abu, kini menjadi coklat.

“Udah gak usah dipikirin. Gak apa-apa, kok.” Jawabku sambil mengusapkan tissue di bagian celanaku yang basah.

“Emang kalo itu rusak, bisa diservis juga?”

Lalu ada hening yang lama. Pipimu merona merah. Disusul pecahnya tawaku karena perkataanmu barusan. “Anu, maksudku celanamu, ya!” katamu berusaha mengklarifikasi. Aku masih tertawa dan menawarimu duduk di mejaku, kamu mengangguk setuju. Setelahnya kita habiskan 4 jam di kafe itu untuk saling bercerita tentang kisah hidup kita masing-masing. Sesederhana itulah kita bertemu dan jatuh cinta.

2 tahun bersama membuatku menjadi orang yang lebih baik. Setiap kebiasaanku yang kamu tidak suka selalu langsung kuhentikan. Misalnya aja begadang, main game online dan ngupil di depan umum secara brutal, lalu upilnya kutempelin di pipinya. Semua kebiasaan jelek itu berhasil aku hentikan saat hubungan kita jalan satu bulan. Ada satu kebiasaanku yang agak susah dihentikan, yaitu merokok.

Aku sudah mulai merokok ketika kelas 2 SMA. Awalnya aku coba-coba mulai membeli sebatang dua batang, hingga akhirnya kebablasan sebungkus, setiap hari.

Kamu selalu marah setiap kali kita bertemu apa bila bajuku bau rokok. Segala jenis parfum yang kusemprotkan mulai dari Casablanca, kispray dan wipol tidak mampu mengalahkan aroma rokok yang sepertinya begitu sensitif di hidungmu.
“Kita gak usah ketemu kalo kamu bau rokok.” Ancammu saat itu dengan bibir dimanyun-manyunin. Aku tarik hidungmu dan bilang, “Iya bawel!” lalu kamu tersenyum, aku meleleh lagi.

Tar dan nikotin di rokok emang menimbulkan efek ketagihan. Susah untuk menghentikan kebiasaan merokok yang statusnya kini menjadi sebuah kebutuhan. Dari dulu sebenarnya aku sudah pengin menghentikan kebiasaan merokok ini. Tapi Butuh niat, usaha dan alasan yang kuat untuk menghentikannya. Hingga akhirnya aku menemukan alasan yang kuat untuk berhenti: demi bertemu dan melihat senyummu.

Butuh 6 bulan lebih bagiku untuk berhenti merokok. Oral habit yang biasanya menghisap rokok kini kuganti dengan mengemut lollipop. Awalnya teman-teman sekampusku mengolokku karena kebiasaan baruku ini.
“Bah, muka sangar tapi ngemut lollipop!” kata mereka.

Aku tidak peduli. Satu-satunya yang aku pedulikan adalah hasil dari kebiasaan baru ini. Untungnya, hasil yang kudapat sesuai dengan yang kubayangkan. Kamu jadi sering ndusel-ndusel ke badanku karena aku sudah tidak bau rokok, yang lebih penting, kamu selalu tersenyum jika bersamaku.

Sepeninggalanmu, aku benar-benar kecewa. Rokok yang sudah menjadi abu di asbak ini adalah pelampiasanku. Aku meminum radler yang ada di tangan kiriku, dinginnya bir melewati tenggorokanku yang terasa asam karena rokok. Aku kembali menyulut rokok yang ternyata rokok terakhir dari bungkusnya. Aku hisap dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke udara, berharap semua kenangan yang tersimpan di pikiranku ikut terbuang bersamanya.

Aku merasa bodoh masih mengingat setiap detail kenangan tentang kita. Apakah kamu masih ingat jika hari ini, tepat 2 tahun lalu kita bertemu? Apakah kamu ingat bagaimana usahaku untuk berhenti merokok? Apakah kamu ingat saat kamu ngamuk di tengah jalan karena mendapatiku masih menyimpan rokok di kantong jaketku? Apakah kamu ingat aku datang ke rumahmu hujan-hujanan tepat pukul 12 malam saat kamu ulang tahun? Apakah kamu ingat saat kita kehujanan dan berteduh di depan sebuah toko, kamu memelukku erat sekali?

Jawabannya mungkin tidak. Setiap kenangan yang kita lalui mungkin hanya menjadi angin lalu bagimu. Melupakanmu tidak semudah mengganti namaku di status BBM-mu menjadi nama cowok lain, yang baru saja kamu lakukan. Kenangan selama 2 tahun seakan-akan tidak pernah terjadi. Segampang itu ternyata, ya? Disaat aku masih mengharapkanmu untuk kembali, kamu sudah bahagia dengan cowok lain.

Sayup-sayup mulai terdengar lagu terputar dari kafe ini. Sebuah lagu dari band favorit kita berdua, Panic! At the Disco.
Just one more hit and then we're through
'Cause you could never love me back
Cut every tie I have to you
'Cause your love's a fucking drag
But I need it so bad
Your love's a fucking drag
But I need it so bad
Yeah, you're worse than nicotine, nicotine
Yeah, you're worse than nicotine, nicotine

Iya, aku masih belum bisa merelakanmu seperti aku meninggalkan kebiasaanku merokok dulu. Aku masih kecanduan akan cintamu.


Yeah, you’re worse than nicotine.

****

Hoho. Gue nyoba ikutan tantangan tiga rasa-nya Kresnoadi. Jadi, di tantangan itu kita disuruh untuk membuat tulisan dengan menggunakan minimal tiga macam indera di antara 5 indera yang kita punya yaitu pendengaran, penglihatan, peraba, pengecap dan penciuman. 

Tulisan gue di atas bercerita tentang cowok yang galau karena diputusin pacarnya setelah pacaran 2 tahun, seminggu kemudian pacarnya (okey, mantan) itu sudah punya pacar lain. Gue nyoba pake indera penglihatan (jam dinding & cewek), indera peraba yaitu kulit (dingin & panas), indera penciuman (aroma rokok). Maaf ya kalo masih salah, gue gak biasa nulis gini. Biasa asal tulis tanpa peduli ini indera apa. Muahahaha.

Btw, kayaknya gue ketagihan deh nulis kayak gini.