A Great Story Comes With Great Stupidity : Barbershop Story

Barbershop Story - Sudah, Om. Sudah.


Gue kadang iri sama cewek. Bukan, ini bukan perkara mereka selalu bisa menganggap diri mereka selalu benar dan cowok selalu salah, atau selalu menjadikan PMS sebagai alasan untuk marah-marah ke cowok, atau juga soal mereka bisa dapet 1.7863.089 love di instagram hanya dengan nge-post foto selfie dilengkapi caption yang sama sekali gak nyambung dengan fotonya sedangkan cowok kalo nge-post foto selfie akan di-block massal.

Ini semua soal rambut.

Lebih tepatnya, soal salah potong rambut.

Menurut gue, ada ketidak adilan yang terjadi saat cewek dan cowok salah potong rambut. Cewek akan bertindak penuh drama dan penyesalan saat salah potong, seakan-akan salah potong rambut adalah sebuah akhir dari dunia, padahal mereka sehari-harinya… berhijab.

YAKAN GAK KELIATAN JUGA. HHHHH…

Kalo pun mereka sehari-harinya enggak berhijab, masih banyak model rambut pendek yang membuat mereka tetap tampak cantik.

Sekarang, mari bandingkan dengan cowok.

Barbershop Story - Ternyata Sama Aja


"Kenapa sih kok cowok-cowok sekarang potongan rambutnya sama semua? Klimis gitu.” Pertanyaan itu meluncur dari temen gue yang berjenis kelamin cewek.

Sadar kalo rambut gue sekarang modelnya begitu juga, gue mencoba menjawab dengan diplomatis. “Ya… karena trendnya gitu.”

Abis jawab gitu, gue malah jadi mikir sendiri, “Bener juga, ya? model rambut cowok sekarang rata-rata sama semua.” Terus gue jadi inget-inget dan mencoba menganalisis kenapa bisa begitu. Setelah berpikir keras sambil menghitung estimasi pada tahun berapa Indonesia bebas dari hutang luar negeri, gue menemukan jawabannya: Ini semua karena barbershop.

Potong rambut di barbershop, selain meningkatkan gengsi, biasanya kang cukurnya juga paham dengan model rambut yang lagi ngetrend dibandingkan dengan tempat cukur biasa. Model rambut yang ngetrend biasanya: undercut, jarhead, pompadour.

Bandingkan dengan tempat cukur biasa, cuma ada deretan foto top's collection, ujung-ujungnya kita cuma bisa bilang: “Bang, rapiin aja.”

Gak keren.

Di barbershop juga biasanya lebih terkesan ekslusif. Mereka jual pomade, AC dan TV kabel sebagai fasilitas, dan biasanya selesai cukur bisa keramas. Jadi gak perlu tuh kepala gatel gara-gara potongan-potongan rambutnya nyelip di helm.

Barbershop Story - Tunggu, ya...

Awal bulan ini gue baru aja potong rambut.

Sebenernya gue selalu malas untuk potong rambut. Entah kenapa tiap kali bercermin, gue selalu lebih suka rambut gue agak gondrong dibandingkan pendek, rapi dan klimis. Gue jadi kurang percaya diri karena menurut gue, rambut pendek dan rapi itu tidak cocok dengan kontur kepala dan struktur wajah gue. Atau dengan kata lain, rambut pendek mengurangi tingkat kegantengan gue yang sudah minus ini.

Alasan lain yang bikin gue malas untuk potong rambut adalah… malas antre.
Bagi sebagian orang, hal paling membosankan di dunia ini adalah menunggu. Entah menunggu antrean, menunggu panggilan kerja, sampai menunggu gebetan putus dari pacarnya. :’)

Gue sendiri termasuk golongan orang-orang di atas. Bukan, gue bukan golongan orang-orang yang nunggu gebetan putus dari pacarnya. Gue golongan orang yang gak suka menunggu.

Makanya, tiap mau potong rambut, gue selalu pergi ke barbershop tiap abis maghrib. Menurut gue, ‘abis maghrib’ itu adalah jam di mana enggak terlalu banyak aktifitas yang terjadi di luar rumah. Jadi, gue menyimpulkan kalo barbershop yang gue tuju pasti sepi. Bebas dari antre. Happy ending! ^_^

Barbershop Story - Basa-Basi Macam Apa Ini?!


Gue kadang iri sama orang yang punya kemampuan untuk gampang akrab sama orang lain yang baru aja ditemui, apalagi orangnya jauh lebih tua dari usia kita. Temen gue, Dana, dia gampang banget akrab dengan orang tua, baik orang tua gue, orang tua pacarnya atau orang tua di bungkus wafer tango.

Orang-orang tipe ini selalu aja gampang menemukan topik yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, walaupun cuma basa-basi doang.

Jujur, gue paling gak bisa ngobrol sama orang tua gitu. Paling hanya basa-basi di awal, lalu yaudah… diem kayak gambar jpeg.

Orang-orang seperti gue ini jika diajak ngobrol sama orang yang lebih tua, jawaban yang gue punya hanya:
1. Iya hehehe
2. Oh hahaha
3. Ehe

Sebenernya gue bukannya gak bisa. Bisa sih, tapi takut salah dalam memilih kata dan salah topik pembicaraan. Misal nih gue jemput pacar lalu ketemu bokapnya si pacar dan diajak ngobrol. Mau ngomongin sepak bola (karena biasanya laki-laki suka sepak bola), takut beda tim favorit. Mau ngomongin politik, takut beda pandangan politik. Mau muji anaknya dengan kalimat, “Anak om leh uga…” takut digampar. :(